Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
FeatureKaum MudaNasionalPemberdayaan

Ber-Koperasi itu Jadul? No,…Ber-Koperasi itu Keren!!

×

Ber-Koperasi itu Jadul? No,…Ber-Koperasi itu Keren!!

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

“Ini patung buatan anggota CU om”, jelasku pada pria paruh baya berkopiah khas NTT. Ia terlihat tekesima meraba patung separuh badan yang terpampang di depan stan sederhana yang kami tata. Ia tak sendiri terlihat puluhan orang berjejal di deretan stan yang di desain tertutup ini. Sayup terdengar di ujung stan penjaga stan yang lain menawarkan kopi dari café yang juga tergabung dalam gerakan Credit Union (CU). Sementara di sudut stan lain dipajang berbagai buku bertema Koperasi, Credit Union dan otobiografi serta novel dan juga cinderamata serta makanan dan minuman khas Kalimantan Barat.

Demikianlah suasana meriah di lokasi stan out door di lokasi Ratnas Induk Koperasi Kredit (INKOPDIT) Tahun buku 2023 yang berlangsung di Qubu Resort dari tanggal 12 hingga 16 Juni 2024. Berbagai insan koperasi kredit dari penjuru negri berkumpul untuk melaksanakan Rapat Anggota Tahunan yang tahun ini menjadikan Pontianak sebagai tuan rumah.

Example 300x600

Bagiku sebagai generasi gen Z, aku begitu awam tentang gerakan koperasi. Di benakku koperasi hanya sebagai ungkapan semata yakni : soko guru ekonomi Indonesia. Kesannya jadul apalagi ditambah stigma “koperasi” yang beroperasi bak rentenir yang memang nyatanya bukanlah koperasi.

Namun terlibatnya diriku dan rekan hari itu untuk menjaga stan salah satu CU, membukakan mataku bahwa koperasi memang soko guru ekonomi dan keberadaanya sangat vital di tengah masyarakat yang majemuk. Hari itu pengalaman menghantarkan aku yang juga mahasiswa semester 2 dari sebuah perguruan tinggi, menyepakati bahwa koperasi itu keren dan membebaskan. Betapa tidak dari diskusi kecil yang mengalir di stan, salah satu pengunjung menceritakan bagaimana banyak keluarga miskin di daerahnya dapat menghantarkan anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi karena orang tuanya ber-CU.

“Bekerja, dikelola dengan ditabung, dan ketika anak-anak butuh biaya ajukan pinjaman pendidikan, tinggal diangsur dengan begitu mereka bisa menguliahkan anaknya, salah satu upaya memutus rantai kemiskinan yakni dengan pendidikan”, ujar pria dihadapanku yang berasal dari Lampung, memberiku pencerahan.

“Anak-anak muda sekarang lebih familiar dengan CU, apalagi CU masuk ke sendi-sendi kehidupan termasuk ke dunia mereka, lihat cewek barista muda itu, cekatan bukan? dan ia bangga dengan pekerjaannya serta pastinya ia anggota CU”, ujar Suroto sambil menunjuk seorang barista yang sedang meracik kopi di stan ujung. Sosok Suroto yang setelah ku-serching di google merupakan salah satu tokoh pemikir gerakan koperasi Indonesia.

Pengalamanku pun semakin bewarna ketika kaos yang kami jual di beli oleh Robby Tulus seorang tokoh penggerak Koperasi Internasional yang tinggal di Canada. “Wah ini kumpulan wajah-wajah orang CU ya, saya mau, ini keren”, ujarnya.

“Iya pak, ini temanya no one leave behind, tiada satupun yang kita tinggalkan, merujuk pada gerakan CU yang linear dengan butir Sustainable Development Goals (SDG’s), ini wajah dari anggota di kampung hingga tokoh dunia seperti bapak”, jelasku yang disambut tawa pria ramah yang berusia 80-an tahun ini.

“Kalianlah generasi penerus legacy gerakan ini, jaga dan kembangkan ya”, sapanya dengan tatapan penuh harapan yang kusambut dengan anggukan kepala.

Dalam sekali aku memaknai ucapannya petang itu. Namun siluet produk-produk karya anggota CU yang terpajang di stan pameran yang muncul di benakku sedikit memberi gambaran bagaimana berbagai harapan berjuta keluarga-keluarga di Indonesia yang menggantungkan manajemen keuangannya di gerakan ini. Harapan yang tentu penuh keoptimisan, layaknya tatapan tajam patung FW. Raiffeisen sang walikota Flammersfield yang dikenal sebagai bapak CU dunia ini.

Dari dunia kami yang penuh dengan disrupsi digital dan dikenal sebagai ‘generasi menunduk”, karena tak lepas dari menundukkan kepala pada smart phone di tangan, mulai dari aktivitas game online yang minim interaksi sosial langsung hingga disibukkan dengan berbagai aplikasi, aku semakin memahami bahwa koperasi seperti gerakan CU ini selalu tumbuh dan berkembang serta mampu beradaptasi dengan tantangan jaman dengan tanpa meninggalkan nilai-nilainya.

Sayup aku mendengar 700-an peserta di Ball Room Qubu Resort yang melantunkan lagu yang disebut sebagai hymne CU, “Bila kita saling percaya, dan bekerja sama, dengan semangat dan ketekunan dan kita bersatu,…….”. Terima kasih gerakan Credit Union, mengenalmu aku semakin memahami bahwa nilai-nilai dari sila Pancasila nyata ter-ejawantahkan nyata padamu, dan kamu itu KEREN. (MG. Dimas Mamuraja).

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *